Perjalanan Hidup Sewaktu di Pondok Pesantren

ponpesaska.blogspot.co.id

Pondok Pesantren adalah suatu tempat untuk mencari ilmu Agama, yang mana para siswanya bertempat tinggal di asrama dan langsung di bawah bimbingan Kyai (Ustadz.)  Para siswa dan siswi juga disediakan semua peralatan kebutuhan sehari-hari, dan terdapat padanya masjid.

Setelah aku lulus dari SD, maka aku memutuskan untuk masuk pesantren untuk mempelajari ilmu Agama. Dan harus meninggalkan permainan setiap hari bersama teman-teman di rumah, Dari permainan sepak bola, berlatih bulu tangkis, futsal, dan lain-lain yang bersifat olah raga.

Di saat pertama kalinya aku mau menginjakkan kaki keluar rumah untuk menuju gaya hidup yang baru, rasanya sangat berat sekali. Tapi, ketika aku melihat kakakku yang tinggal di pesantren menjalani liburan di rumah, dia sangat bermanfaat sekali untuk masyarakat.

Hal itulah yang menjadi penyemangat untukku, dan melanjutkan sekolah di pesantren. Betapa besar pahala orang yang bermanfaat bagi manusia dalam hal kebaikan. Sebagai yang disabdakan Rosululloh Shallallahu alaihi Waasallam ;                خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”                                                                             Hadist yang diucapkan Rosul, menunjukkan bahwa kita disuruh untuk selalu berbuat baik kepada orang lain maupun kepada makhluk yang lainnya. Dan dari sinilah akan diketahui sebagai seorang mukmin yang sebenarnya, yang bermanfaat bagi manusia ataupun malah sebaliknya.

Kedatanganku Pertama Kali

 

al-amien.ac.id

Kedatanganku dan calon santri baru di Pesantren Al Islam Jumapolo, mendapat sambutan oleh para Ustadz dan senyuman yang tampak di wajah-wajah mereka.Kami mulai berjabat tangan dan saling berkenalan satu dengan yang lain, agar kami saling mengenal dan tidak malu-malu di keseharian kami.

Di pesantren ini yang membuat nyaman adalah kakak-kakak kelas  yang ramah dan tidak mementingkan diri sendiri. Mereka sangat bersikap lemah lembut kepada kami dan selalu membimbing semua agenda yang harus dikerjakan oleh santri di setiap harinya.

Dari hal kewajiban beribadah, hal yang sunnah, dan kewajiban harian santri, semua di bimbing kakak kelas dan para Asatidz. Keseharian santri di pesantren ini lebih banyak jam belajarnya. Di saat aku duduk di bangku kelas 1 MTS (SMP), jam belajar kami kurang lebih 7 jam dan kadang sampai 8 jam.

Pesantren kami memang bukan pesantren tahfidz, jadi tidak ada jam pelajaran khusus tahfidz. Tapi kami sendiri yang mencari waktu untuk hafalan, dan kami juga ditarget per minggunya menghafalkan 4 halaman. Jujur kalau aku pertama kali datang di pesantren ini, aku tidak nyaman dan tidak kerasan bahkan sampai beberapa hari aku masih belum kerasan.

Teradaptasi dengan Lingkungan Pesantren

lh3.googleusercontent.com

Akhirnya, setelah lamanya aku tidak kerasan di pondok, sekarang aku sudah bisa merasakan enaknya dan serunya tinggal di pondok. Aku sudah bisa beradaptasi  dengan lingkungan sekitar, keenakan berjamaah lah yang membikin ukhuwah kami semakin kuat.

Lingkungan pesantren adalah lingkungan Islami, tidak boleh adanya perkataan yang tidak bermutu bahkan perkataan kotor. Pesantren kami adalah pesantren yang kesehariannya berkomunikasi dengan Bahasa Arab, kalaupun ada yang tidak berbicara dengan Bahasa Arab maka dia akan mendapat hukuman.

Pesantren kami dalam peraturan bisa di bilang sangat ketat, tidak diperbolehkan membawa Hp, Mp3, kamera, dan bahkan uang pun juga tak diperbolehkan. Jadi kalau kami mau membeli sesuatu di koperasi, kami harus membawa buku tabungan.

Prestasi yang Jelek

i0.wp.com

Ketika masih duduk di kelas 1 MTS, saya menghabiskan waktu di pesantren hanya untuk bermain, bahkan jarang sekali aku belajar ataupun mengulangi pelajaran yang sudah disampaikan Ustadz. Terkadang ngantuk dan kadang pula tidur di waktu pelajaran,  apalagi tentang hafalan, aku sangat males.

Kebiasaanku bermain, males, jarang mengulangi pelajaran, dan lain-lain, mengakibatkan prestasi yang aku dapatkan selama satu tahun di pesantren sangat buruk. Tapi aku masih bisa naik kelas 2 MTS, dari itu semua aku merasa sangat malu terhadap kedua orang tuaku.

Di dalam hati, aku selalu menginginkan untuk selalu berubah supaya menjadi orang yang rajin Ibadah dan rajin dalam pekerjaan keseharian, seperti belajar, hafalan, tidak banyak bermain, dan lain sebagainya.

Perubahan Prestasi

cahngroto.net

setelah menjalani 1 tahun duduk di kelas satu, sekarang kami sudah menduduki kelas 2 MTS yang pelajaran dan tugasnya semakin banyak. Dan juga jam belajarnya sekarang menjadi 9 jam, yang di mulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Yang harus pintar-pintar untuk  mengatur waktu.

Dengan agenda yang sangat banyak ini, aku harus melatih kedisiplinanku supaya tugas-tugas bisa terselesaikan. Dari hal belajar, mencuci, hafalan, dan masih banyak lagi agenda yang harus aku jalani. Yang harus aku perhatikan adalah pelajaran, bagaimana caranya aku harus bisa meningkatkan prestasiku yang buruk.

Belajar disiplin ternyata lumayan sulit, dan harus mendapat dukungan teman juga, teman-temanku selalu memberiku semangat di saat aku malas mengerjakan sesuatu dan juga mengingatkan sewaktu aku lupa. Dan akhirnya aku berhasil meningkatkan prestasiku dari pada sebelumnya.

Betapa Berharganya Kawan

i.ytimg.com

Menjalani kehidupan di mana saja, kita pasti membutuhkan seorang teman. Karena, hidup ini bukan hal yang mudah, mulus tanpa  rintangan, penuh wewangian, dan tidak adapula yang menjanjikan kita semua itu berhasil.  Bahkan sebaliknya kehidupan ini tercampur aduk dengan adanya kesenangan dan juga kesusahan.

Dan untuk melewati itu semua kita juga membutuhkan teman terlebih lagi pertolongan dari Allah Ta’ala. Dengan adanya teman kita akan terbantu dalam menyelesaikan masalah, selalu memberi solusi, dan menjadi tempat curhat kita. Betapa istimewa menjadi seorang teman yang bisa membantu.

Perbedaan yang Saling Melengkapi

pmimuntilan.blogspot.co.id

Perbedaan dalam suasana nyantri memang terkadang sangat menyebalkan, bikin hati teriris-iris dan mata pun menangis. Tapi yang harus diketahui bahwa perbedaan tidak selalu tidak selalu menyebalkan, bahkan perbedaan itu anugerah yang saling melengkapi di antara kita.

Perbedaan itu unik, benar-benar unik. Keunikan yang menjadi warna-warni dalam persaudaraan. Dulu di zaman Rosululloh, para sahabat juga mempunyai perbedaan, baik di bidang materi, psikologi, maupun intelektual. 

Kalau Umar memang kekar, Abu Bakar pintar, Utsman saudagar, Ali pendekar, Abu Hurairah mempunyai ingatan yang kuat. Bilal hitam, memang hitam tapi suaranya bikin hati pendengarnya tenteram. Dan masih banyak lagi para sahabat yang memiliki kelebihan masing-masing.

Dengan berbagai perbedaan, mereka saling melengkapi,membantu satu sama lain untuk menjunjung tinggi kalimat illahi. Sama halnya perbedaan mereka, bangunan ma’had pun tidak akan berdiri jika tidak ada unsur-unsur yang saling melengkapi, Adanya si beton, besi yang keras, kerikil, dan semen yang menyatukan pasir dan kerikil menjadi tembok.

Begitulah perbedaan yang terjadi di mana saja dan di pesantren. Kala ia hadapi dengan saling merasa, memandang dari positifnya dan tak dari sebelah mata. Kala perbedaan ia hadapi dengan saling mengerti, membebaskan hati dan saling bersimbiosis mutualisme.  

Dengan itu, kita akan mempunyai mejikuhibiniu di langit laskar mujahid. Dan kita akan menguatkan terjalnya perjalanan ini. Sehingga dapat menancapkan panji-panji Islam di puncak tertinggi bersama-sama. So, different it’s oke.

 

Tinggalkan komentar