Pengertian Gerhana dan Tata Cara Sholat Gerhana

http://apaperbedaan.com

Gerhana adalah suatu fenomena astronomi yang terjadi jika sebuah benda  angkasa bergerak atau bergeser ke dalam bayangan sebuah benda angkasa laen. Adapun gerhana sendiri itu terbagi menjadi dua, yaitu ;

  1. Gerhana Bulan – Gerhana Bulan terjadi jika sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh adanya bayangan bumi. Hal itu terjadi di saat bumi berada di anatra matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, yang mengakibatkan matahri tidak dapat menyinari bulan karena tertutupi/terhalangi oleh bayangan bumi.
  2. Gerhana Matahari – Gerhana Matahari terjadi jika posisi bulan berada di di antara bumi dan matahari, yang mengakibatkan tertutupinya sebagian atau keseluruhan sinar matahari.

Dan di waktu terjadinya gerhana, gerhana matahari maupun gerhana bulan, maka disunnahkan bagi umat muslim untuk menegakkan sholat gerhana atau di dalam Bahasa Arab disebut dengan sholat khusuf. Sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Saw :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu.” (HR. Bukhari no. 1043, Muslim no. 915)

Dalam melakukan sholat gerhana tersebut sebaiknya dilakukan secara berjamaah, karena itu sunnah menurut hadits yang berbunyi;
صحيح البخاري (4/ 163)
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ
“Dari Aisyah istri Nabi SAW bahwasanya beliau berkata; Matahari mengalami gerhana pada masa hidup Nabi SAW. Maka beliau keluar menuju masjid lalu membariskan orang-orang dibelakang beliau “ (H.R.Bukhari)

Dan dalam seruan untuk sholat gerhana tidak memakai adzan dan iqomah yang seperti biasa dilakukan untuk adzan-adzan sholat rowatib, tapi memakai seruan “As Sholaatu Jaami’ah,” berdasarkan hadits ;

صحيح البخاري – مكنز (4/ 256، بترقيم الشاملة آليا)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – قَالَ لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نُودِىَ إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ
“Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata; Tatkala matahari mengalami gerhana di masa Rasulullah SAW maka diumumkan ‘Assholata Jami’ah” (H.R.Bukhari)

Adapun tata cara sholat gerhana akan dijelaskan di bawah ini :

  1. Sholat gerhana matahari maupun sholat gerhana bulan itu sama dalam bentuk rakaatnya, takbirnya dan semua yang berkenaan dengan sholatnya.
  2. Niat, yang tidak perlu kita lafalkan dengan jahr, karena tidak ada tuntunan dari Rosululloh Saw, tapi cukup kita berniat di dalam hati.
  3. Takbirotul ikhrom, sebagaimana kita melakukan sholat wajib ataupun sunnah.
  4. Membaca do’a iftitah dan ta’awudz serta membaca surat Al Fatihah dan dilanjutkan membaca surat yang panjang, surat Al Baqoroh dengan bacaan jahr atau mengeraskan bacaan.sebagaimana yang disabdakan Rosululloh Saw dari Aisyah r.a, yang berbunyi ;

    جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ

    “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)

  5. Setelah selesai membaca surat-surat tersebut kemudian ruku’ dan memanjangkannya.
  6. Dan setelah ruku’ maka i’tidal dan tidak langsung sujud seperti sholat-sholat bisa, tapi takbirotul ikhrom lagi dan dilanjutkan dengan membaca Al Fatihah lagi dan selanjutnya, tapi lebih pendek atau lebih singkat dari yang pertama tadi.
  7.  Kemudian ruku’ dan memanjangkannya , tapi tidak panjang atau lebih singkat dari yang pertama.
  8. Kemudian i’tidal dan dilanjutkan sujud dengan memanjangkannya sebagaimana ruku’ dan juga sujud yang kedua yaitu setelah duduk di antara dua sujud,juga dilakukan lebih pendek sebagaimana ruku’.
  9. Sehabis itu bangkit dari sujud dan melanjutkan raka’at yang kedua sebagaimana raka’at pertama yaitu dua kali ruku’ dan lain-lainnya hanya saja lebih singkt atau lebih pendek dari raka’at pertama.
  10. Dan setelah sujud kemudian tasyahud.
  11. Dan diakhiri dengan salam. Dan dilanjutkan dengan khutbah dari Imam yang menyampaikan dan menghasung untuk berdzikir, bersedekah, berdo’a, membebaskan budak, mentadaburi kekuasaan Allah, dan lain-lain. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1: 438.)

Ini adalah sebuah gambaran untuk memudahkan dalam memahaminya,

ayolebihbaik.com

Demikianlah penjelasan singkat tentang gerhana dan tata cara sholat gerhana yang diajarkan Rosululloh Saw, semoga dengan penjelasan singkat ini bisa bermanfaat untuk kita dan kita bisa melaksanakannya ketika adanya gerhana matahari maupun gerhana bulan mendatang.

Tinggalkan komentar