Pengalaman Bermain Bulu Tangkis

img.okezone.com

Olah raga bulu tangkis merupakan olah raga yang banyak digemari orang-orang luar maupun orang Indoneesia. Olah raga ini sudah mendunia sejak zaman dahulu sampai sekarang. Bahkan sekarang ini di daerah manapun banyak orang yang berolah raga bulu tangkis.

Sampai saat ini kita ketahui banyak sekali pemain-pemain handal/profesional yang selalu muncul di layar televisi. Dan pada bidang olah raga inilah negara kita tercinta dapat meraih mendali atau potensi terbaik di dunia, apalagi pemain atlet dari Indonesia yang terkenal, yaitu Taufiq Hidayat yang sudah meraih mendali emas maupun perak yang cukup banyak.

Masih banyak lagi pemain-pemain profesional Indonesia yang sudah mendapatkan mendali-mendali emas maupun perak yang mengharumkan tanah air kita . Kalau dibahas di sini, entar nggak akan cukup waktunya, (hahaha)

Di waktu aku masih kekanak-kanakan, aku dan kakak-kakakku sering diajak bapak untuk bermain bulu tangkis (badminton) di jalan depan rumah. Memang hobi bapakku adalah bermain bulu tangkis, maka dari itu kami sering  dilatih supaya dapat bermain bulu tangkis, dan di waktu sudah berkeluarga bisa mempunyai basic olah raga supaya tidak bermalas-malasan.

Setelah berjalannya waktu bapak-bapak dan remaja masjid sepakat untuk membuat lapangan badminton di depan masjid. Kemudian dibangunlah lapangan tersebut, yang sedikit demi sedikit direnovasi akhirnya menjadi gedung badminton, tapi, tidak dipakai untuk badminton saja sich, tapi gedung itu jadi gedung serba guna di kampung saya.

Biasanya dipakai untuk respsi pernikahan atau pun walimahan, rapat Rt maupun Rw  dan acara-acara yang lain, hanya saja warga sekitar yang memkai gedung tersebut. Jadi bisa dibilang gedung serba guna.

Setelah pembangunan lapangan tersebut, saya menjadi lebih semngat untuk bermain bulu tangkis, dan waktu itu aku masih duduk di kelas 5 MI(SD). Walaupun aku masih kecil tapi lawan-lawanku adalah orang-orang dewasa dan bapak-bapak.

Semakin tambah hari, semakin banyak peminat untuk bermain badminton, karena hanya mengeluarkan uang Rp 1000 rupiah dapat menjadikan tubuh sehat, keluarnya keringat yang banyak dan yang ngak kalah penting adalah menyambung ukhuwah masyarakat.

Perlombaan

i.ytimg.com

Sering juga diadakan perlombaan di gedung tersebut, sebelumnya gedung tersebut masih terbuka, belum ada atapnya. Makanya kami beri nama PB. Angin-Angin, karena di setiap bermain kadang-kadang terganggu angin yang berhembus, belum lagi sinar matahari yang mbikin mata silau kalau diberi bola atas.

Perlombaan  biasanya diadakan setahun sekali, dan hadiahnya tidak terlalu besar sich, untuk juara 1 paling dapatnya uang sebesar Rp 1 juta + beras 5kg, juara 2 dapat Rp 750 ribu + beras 5kg. Pengikut lomba tersebut lumayan banyak, jadi untuk mendapatkan juara 1, bukan hal yang mudah.

Aku biasanya juga mengikuti perlombaan tersebut, walaupun aku masih kecil, tapi aku sudah dianngap bisa, makanya aku diperbolehkan untuk ikut perlombaan tersebut. Di perlombaan pertama ini, aku sudah bermain cukup maksimal, yang bisa membaawaku dan temanku  masuk ke delapan besar.

Tapi sayangnya, di delapan besar ini, aku gugur atau terkalahkan dan mengharuskanku berhenti sampai babak ini. Tapi bapakku sudah masuk semi final, yang kemudian beliau lolos dan memasuki laga final. Dan di waktu final pun bapakku dapat menjuarai perlombaan tersebut. Aku cukup senang walaupun aku tidak dapat masuk final.

Pertandinganku dengan saudara

kampung-media.com

Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat, hari demi hari, bulan demi bulan, tiba-tiba waktu pun sudah mendekati lebaran, yang sebentar lagi mudik ke Kaliyoso, Sragen. Tibalah lebaran dan aku harus mudik bersama keluarga ke desa. Sesampainya aku ke desa, sepupu bapakku yang tinggal di Jakarta silatur rohmi ke rumah nenek, karena rumah nenek dan orang tuanya berdekatan.

Setelah berbincang-bincang kesana-kemari akhirnya, bapakku dan sepupunya sepakat akan mempertemukanku dengan anaknya yang bernama Sabda untuk bertanding sehabis isya’. Dan kalaupun aku menang, aku akan diberi uang Rp. 1juta, tapi karena anaknya tersebut sudah berlatih atau mempunyai guru pribadi, jadi aku dikalahkannya dengan skor yang selisih tidak terlalu banyak.

Sebenarnya aku mampu mengalahkannya akan tetapi, aku kalah fisik dari dia, dalam set/babak pertama,  skor 21-17, dan babak kedua dengan skor 21-16. Walaupun aku kalah tapi aku masih bisa mengimbangi permainannya, terpakksa aku tidak jadi dapat uang Rp. 1juta(Hhhhi.) Karena aku bisa dapat poin 15,, maka aku di beri raket.

Sekolah Badminton

mba101badminton.com

Sesudah beberapa hari di desa akhirnya kami kembali ke kampung halaman. Tiba-tiba pamanku datang ke rumahku bermaksud ingin membawaku ke Bekasi untuk di sekolahkan badminton, karena pamanku juga ikut melihat pertandinganku kemarin. Tapi, karena aku masih kecil dan tidak mau pisah sama orang tua dan orang tua pun juga, akhirnya aku tidak jadi dibawa ke Bekasi.

Tapi aku dianjurkan untuk mengikuti sekolah badminton, akhirnya aku sekolah badminton di PB. Panorama. Pertama kali aku masuk di sekolahan tersebut, aku masih belajar tentang langkah, karena langkah itu pentting dan harus dimiliki oleh pemain badminton.

Pertama-tama aku masih berlatih dengan anak-anak kecil, ada yang TK, SD dan lain-lain, terus seeperti itu setiap kali aku latihan. Dan aku selalu semangat dan bersungguh-sungguh supaya aku bisa bermain dengan optimal. Dan akhirnya setelah berlati dengan anak-anak kecil, maka aku dipindah untuk berlatih  bersama anak-anak seumuranku.

Rasanya lumayan lega, tapi aku ingin berlatih bersama orang-orang yang lebih tinggi potensinya. Aku terus bersemangat untuk naik tingkatan lagi, dan akhirnya setelah beberapa waktu, keinginanku terkabul dan aku bisa berlatih bersama teman-teman yang berpotensi.

Dan setelah satu tahun aku berlatih di PB. Panorama, aku memutuskan untuk tidak berlatih lagi dan melanjutkan sekolah di pondok pesantren agar menjadi orang yang faham agama dan bermanfaat bagi manusia. Dan setelah berjalannya waktu sampai aku lulus dari pondok, aku mendengar dari bapakku bahwa teman-temanku yang berlatih bersamaku dulu banyak yang sudah masuk di Djarum.

Seperti itulah pengalamanku bermain bulu tangkis, sekarang aku baru tahu bahwa keinginan bapakku, aku di sekolahkan badminton supaya  bermanfaat setelah berkeluaraga, bukannya supaya aku jadi pemain bulu tangkis yang prefesional. Karena ilmu agama itu tak terbayar oleh apapun.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar