Pendakian Gunung Lawu Bersama Kerabat

jadituris.com

Keinginanku untuk mendaki gunung sangatlah besar, setiap kali kakak-kakakku izin kepada orang tua untuk mendaki gunung, pasti diperbolehkan. Sebenarnya aku sangat ingin bisa ikut kakak mendaki, karena aku pikir mendaki gunung itu suatu hal yang mudah. Tapi sama saja, kalaupun kakak mengizinkanku untuk ikut, pasti orang tua tidak memperbolehkannya.

Berbagai sebab aku tidak diperbolehkan orang tua untuk ikut mendaki, karena pandangan mereka kepadaku masih kecil, belum dewasa. Memang, aku masih kecil dan belum dewasa, tapi aku yakin kalau aku bisa sampai rumah dengan selamat. Alasan apa saja yang aku berikan kepada orang tua, pasti di tolak. Pokoknya sangat menyebalkan.

Sudah beberapa kali kakak-kakakku izin mendaki dan diperbolehkannya, sedangkan aku hanya bisa berangan-angan saja. Ini yang membuatku beranggapan buruk bahwa orang tuaku pilih kasih terhadap anaknya.

Tawaran Kerabat Ikut Mendaki

4.bp.blogspot.com

Waktu pun sudah berjalan  cukup panjang, akhirnya aku masuk ke pesantren untuk mendalami ilmu agama. Dan setelah aku mau duduk di kelas 3 tsanawiyah(SMP,) tibalah waktu yang ditungu-tunggu yaitu liburan 1 bulan, pertengahan bulan Romadhan sampai pertengahan bulan Syawal, selayaknnya pesantren-pesantren lain.

Setelah merasakan berpuasa 15 hari di rumah, lebaran pun tiba, aku bersama keluarga besar orang tua, semua berkumpul di rumah nenek.  Saat itulah aku mendapat tawaran untuk ikut mendaki gunung, dari 2 orang sepupu yang seumuran denganku. Mereka juga orang pesantren dan masih menjalani masa liburan.

Dengan diam-diam kami merencanakan acara ini, dan setelah kami musyawarahkan kami sepakat untuk mendaki pada 7 hari setelah lebaran. Kamipun merahasikannya, karena kalau orang tua mengetahui pasti tidak mengizinkannya.

Tekad yang Besar untuk Berangkat

4.bp.blogspot.com

Waktu yang kami sepakati telah tiba, dengan senang hati kamipun mempersiapkan perlengkapan yang kami butuhkan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati kami, yaitu masalah izin kepada orang tua Kemudian muncullah ide supaya kami tidak dicurigai, kami cuma punya waktu setengah hari, pagi berangkat malam sampai rumah.

Dengan usulan tadi, kamipun setuju nanti malam harus sudah sampai rumah. Adapun gunung yang mau kami taklukan adalah Gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan kami tinggal di Jawa Tengah.

Dengan tekad yang kuat dan hati kurang tenang, kamipun berangkat pada jam 7 pagi untuk menaklukkan Gunung Lawu.

Sampai Tujuan (Basecamp)

1.bp.blogspot.com

Sewaktu aku mau sampai di basecamp sekitar pukul 9 pagi, udara dingin sudah merasuk ke tulangku. Itu saja masih di perjalanan, muncullah di benakku bagaimana nanti kalau udah sampai di gunung. Akhirnya sampailah kami di pintu mula pendakian.

Ternyata benar, di basecamp udaranya sangat dingin sekali, bahkan 4 kali lipat dari udara di Kota Solo tercinta. Setelah itu, secepatnya kami menitipkan motor  ke tempat penitipan supaya aman. Untuk penitipan motor selama setengah hari tarifnya Rp. 5000, adapun satu hari full tarifnya Rp. 10000, kami menitipkan selama setengah hari saja.

Selesainya transakasi, kami bertiga pun langsung menuju ke pintu pendakian setelah menitipkan motor. Sebelum memasuki wilayah gunung, setiap orang harus didata untuk keamanan pendaki, akan naik jam berapa? dan kira-kira mau turun jam berapa? Untuk karcis naik /mendaki seharaga Rp 5000 per orangnya.

Perbekalan kami sama sekali tidak seperti orang yang mau mendaki, tidak membawa sleeping bag ataupun perlengkapan tidur, dan makanan pun hanya ada roma kelapa, malkist, gula jawa dan 3 botol air minum yang berukuran sedang. Itupun yang 1 botol jatuh dan kamipun tak merasa, kami hanya membawa barang seperlunya saja, karena kami berniat setelah maghrib harus sudah sampai bawah.

Begitulah tekad kami yang membara untuk menaklukkan Gunung Lawu. Semua rintangan kami lewati.

Awal Mula Mendaki

i.ytimg.com

Tak menunggu lama kami pun langsung tancap gas untuk menuju pos satu, sambil melihat dan mentadabburi kuasa Allah SWT yang sangat indah. Dari pepohonan tinggi yang menjulang di kanan kiri, dan juga burung-burung yang berterbangan seraya berkicau dengan kicauan yang indah.

Subhanallah, inilah pertama kaliku memasuki wilayah gunung.

Tidak terasa waktu, ternyata kami sudah sampai pos satu dengan tanpa halangan, karena jalan masih belum terlalu menantang, kamipun memaksakan diri untuk beristirahat/break sebentar. Setelah tenaga dan semangat kami sudah kembali, kami melanjutkan perjalanan ke pos 2.

Ternyata, jalan dan jaraknya tidak disangka-sangka, lebih menanjak dan jaraknya juga lebih jauh, bahkan 2 kali lipat dari pada perjalanan menuju pos 1. Kaki sudah terasa lelah dan terus berfikir kapan sampai ke pos 2. Istirahat demi istirahat kami jalani untuk memulihkan tenaga.

Di pos 2 inilah tenaga kami terkuras lumayan banyak, tapi semangat kami tidak akan pernah padam. Kamipun sudah merasa senang bisa menaklukkan pos 2, walaupun istirahat kami lakukan berkali-kali.

Kesedihanku yang Tiba-tiba Muncul

rheyzaurusworld.files.wordpress.com

Pos 2 telah kami taklukkan dengan agak susah, di karenakan jarak yang sangat jauh dan medan yang luar biasa tanjakanya. Dalam menuju ke Pos 3, ternyata medannya lebih susah dan sangat melelahkan, sampai-sampai aku selalu memikirkan yang nggak-nggak.

Aku merasa sedih dan tidak enak, di pikiranku mengatakan lebih baik di rumah tidur dan bersantai tidak usah susah-susah seperti ini.

Apalagi terpikirkan tentang perizinan, pokoknya semuanya serba rumit bagiku, tapi mau gimana lagi aku sudah mau sampai di Pos 3, dan kerabatku terus menyemangatiku, akupun harus bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Kesedihanku mulai mereda setelah salah satu kerabatku berteriak dengan penuh semangat untuk memberi aba-aba untuk melanjutkan perjalanan.

Pos 3 akhirnya terlintasi juga, di pos ini kami hanya minum beberapa teguk dan memakan secuil gula jawa supaya tenggorokan kami terasa enak. Sebelum lanjut ke Pos 4, aku menyangka bahwa perjalanannya akan semakin susah, tapi setelah kami langkahkan kaki kami lagi menuju ke Pos 4, Alhamdulillah, medan menuju Pos 4 tidak seperti yang aku sangka.

Perjalanan Menuju Pos 4 dan 5

i.ytimg.com

Medan perjalanan menuju Pos 4 memang menanajak, tapi tidak sesulit seperti Pos-Pos sebelumnya. Apalagi menuju ke Pos 5, lebih mudah sebgaimana jalan menuju Pos 1, walaupun awalnya menanjak. Tapi tidak masalah buat kami untuk menyelesaikannya, kami terus melanjutkan perjalanan sampai menuju warung Mbok Yem.

Kami beristirahat di dekat warung tersebut, karena antrian yang lumayan banyak terpaksa kami tidak jadi beli dan waktu yang semakin sore. Kami hanya sempat minum dan langsung melanjutkan perjalanan lagi menuju tempat yang kami tunggu-tunggu.

Berada di tempat yang sedikit lagi mencapai tujuan, Terlihatlah sebuah bendera merah putih yang berkibar, yang berada di puncak gunung lawu. Tapi, setelah kami amati ternyata untuk mencapai puncak tersebut kami harus berputar dulu.

Terpaksa kami harus menghentikan langkah terlebih dahulu, dan duduk di tanjakan pasir yang sekelilingnya tanaman bunga edelweis (bunga abadi.)

Tiba-tiba terdengarlah suara sekelompok orang yang berada di semak-semak tanaman itu, ternyata sehabis kita tengok ada sebuah jalan pintas untuk menuju puncak. Kami langsung mengikuti jalan tersebut dan bertemu dengan sekelompok orang tadi, seraya memberikan sapaan kepada mereka.

Dari tempat itu semakin jelas bendera merah putih yang berkibar, sampailah kami ke puncak gunung dengan berlari. Perjalanan yang cukup panjang yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk sampai di puncak. Sampainya kami di puncak sekitar jam 14:30 sore.

Sesampainya kami di puncak, kami beristirahat dan makan bekal yang kami bawa, sambil berfoto selfie bersama-sama. Kami luapkan kesenangan  di atas puncak ini.

Turun ke Basecamp

3.bp.blogspot.com

Setelah kami bersenag-senang di atas puncak selama kurang lebih 1 jam, kami harus turun secepatnya ke basecamp supaya sampai rumah tidak terlalu kemalaman. Aku rasa turun itu juga susah sebagaimana mendaki, tapi setelah aku coba, terasa lebih ringan dan mudah.

Dari situ aku langsung turun sambil berlari, yang sebelumnya aku paling lamjfdbat, sekarang jadi yang pertama kali turun ke bawah. Akhirnya sampailah di basecamp sekitar jam 7 malam. Terdengarlah adzan untuk melaksanakan Sholat Isya’.

Dari situlah kami teringat bahwa kami belum melaksanakan Sholat Duhur, Ashar dan Maghrib. Kami langsung  menuju masjid untuk melaksanakan sholat dan mengqhosornya. Setelah itu, kami langsung menuju ke motor dan pulang ke rumah.

Alhamdulillah kamipun sampai ke rumah dengan keadaan selamat, dan orang tua kami tidak mencurigainya. Dari sini aku baru faham kenapa orang tua belum mengizinkanku untuk mendaki gunung, karena mendaki  gunung dibutuhkan tenaga yang extra dan kesabaran.

Dan aku sangat merasa bersalah karena aku beranggapan bahwa orang tuaku pilih kasih terhadap anaknya. Padahal ketidakbolehan orang tua kepada anaknya merupakan sebuah bentuk kepedulian dan kasih sayang , mereka khawatir jika terjadi sesuatu terhadap anaknya.

Dan aku sangat bersyukur aku dan kerabat-kerabatku masih diberi keselamatan oleh Allah SWT untuk meminta maaf kepada orang tua dan bertaubat kepada-Nya. Karena kami sudah melanggar perintah-perintah Allah dalam hal sholat, meminta izin/ridho kepada orang tua dan kesalahan-kesalahan yang lainnya.

Semoga dengan pengalaman yang ku alami ini, dapat menjdi pelajaran bagi pembaca terutama yang menulis, agar selalu taat kepada orang tua dan selalu ingat dengan kewajiban ibadah kita kepada Allah SWT.

Tinggalkan komentar