Mengukir Sejarah Aksi Bela Islam 112

ngelmu.id

Berbagai macam cara dilakukan sejumlah oknum dan aparat  untuk menggagalkan aksi 112, yang dilaksanakan di Masjid Istiqlal Jakarta. Dalam rangka “Dzikir dan Taushiah  Nasional” untuk meneruskan perjuangan pada aksi-aksi sebelumnya.  Agar umat muslim tidak terjebak dengan gerakan-gerakan provokasi yang mengkhawatirkan.

Aksi tersebut berjalan dengan lancar dan tak ada sedikitpun yang mengganjal.  Sebelumnya para pembesar aparat mengancam bahwa akan ada penggagalan dan penggembosan-penggembosan yang dilakukan sebelum hari pelaksanaan, tapi semua ancaman itu tidak berbuah hasil.

Bahkan beribu-ribu orang  turut mengikuti aksi tersebut. Dari semua daerah pada berdatangan berkumpul menjadi satu di Masjid Istiqlal dan dipimpin oleh satu komando. Aku dan Bapakku juga turut serta mengikuti taushiah dari beberapa ulama’.

Berangkat ke Jakarta

aktual.com

Sebelum berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Aksi 112 yang berlangsung di Masjid Istiqlal, hampir saja aku tidak dapat tumpangan bus. Tapi karena bus rombongan dari Sragen tersisa tempat duduknya, maka aku dan bapakku harus menunggu datangnya bus dari Sragen.

Kami berkumpul di Masjid Al-Abror Solo, jumlah bus yang akan berangkat ke Jakarta sebanyak enam bus. Dan setiap bus memuat sekitar 60 0rang. Setiap orang harus membayar Rp 100.000  untuk biaya transportasi dan itu semua sudah dijamin makan siang dan malam.

Setelah kami melaksanakan Sholat Shubuh berjama’ah  di Masjid Al-Abror. Kami diabsen satu persatu dan sekalian diberi nasehat untuk meluruskan niat. Semua amalan harus  kita niatkan untuk mencari ridho Alloh Ta’ala, supaya usaha kami tidak tersia-siakan.

Akhirnya kami pun berangkat pada jam 07:00 pagi. Kami menempuh beberapa daerah yang belum pernah aku kunjungi. Sebagian daerah terdapat pemandangan yang cukup indah dan mengurangi kebosanan. Duduk berjam-berjam di bus terasa pegal dan sangat membosankan.

Kami juga sempat berhenti di masjid yang berada di daerah Pekalongan untuk melaksanakan Sholat Jum’at. Sampai-sampai masjid yang kami singgahi penuh, padahal masjid tersebut lumayan besar dan luas. Selesainya Sholat Jum’at kami pun Sekalian men-jama’ Sholat Ashar.

Perjalanan pun dilanjutkan lagi sampai kami singgah lagi di daerah Cipali, untuk melaksanakan Sholat Maghrib. Dan sekalian kami jama’ Sholat Isya’ nya.

Sampainya di Tujuan

i.ytimg.com

Setelah berjam-jam menempuh perjalanan yang jauh. Akhirnya kami tiba di daerah Petamburan, Tanah Abang Jakarta Pusat jam 08:00 malam. Kami pun langsung menuju masjid Al-Islam untuk beristirahat setelah lamanya menempuh perjalanan.

Beristirahat di masjid tersebut semalam supaya tenaga dan fisik kami kembali normal, dan bisa semangat pada aksi yang akan datang. Aku bersama kawan-kawanku malah begadang semalaman, maklum dah lama belum bertemu. Apalagi ada faktor yang mendukung yaitu air panas dan kopi yang sudah tersedia.

Semua jenis minuman sudah tersedia dan air panas pun juga tersedia, tinggal usaha untuk membuatnya. Sampai-sampai kami membuat minuman berkali-kali sampai perut kami kembung. Kami bercerita dan bercanda ke sana ke mari sampai jam 01:30 malam. Kemudian bapakku menyuruhku untuk mandi selagi kamar mandi masih sepi.

Selesainya mandi, aku pun melaksanakan Sholat Tahajud, dan dilanjutkan berdo’a. Setelah berdo’a aku tertidur sebentar. Walaupun tidur sebentar tapi rasanya sudah cukup segar di badan. Bapakku langsung menyuruhku untuk bersiap-siap.

Detik-detik Berangkat ke Tujuan

aktual.com

Menunggu tibanya adzan Sholat Shubuh, aku dan bapakku mengemas barang-barang yang kami perlukan. Dari baju koko, surban, sepatu, dan lain sebagainya. Lumayan cukup lama berbincang-bincang dengan bapak dan kawan-kawan, terdengarlah suara adzan Shubuh yang dikumandangkan dengan irama yang merdu.

Kami pun berwudhu lalu merapatkan shof, setelah selesainya Sholat Shubuh, Para jama’ah terus diberi nasehat agar selalu meluruskan niatnya masing-masing dan menghasung para jama’ah untuk selalu memilih pemimpin muslim, khususnya warga Jakarta yang akan ada Pilgub dan Pilcagub DKI Jakarta.

Kemudian dijadikanlah kelompok-kelompok dan diambil perkelompoknya satu ketua, untuk menjaga anggotanya dan diberi tugas masing-masing. Setelah selesai semua, maka diputuskan untuk berangkat menuju tujuan yaitu ke Masjid Istiqlal.

Di setiap jalan terdapat para demonstran yang juga mau menuju ke Istiqlal, para polisi dan aparat sudah bersiap-siap dan berjaga di pinggiran jalan. Ternyata perjalanan yang masih jauh menuju Masjid Istiqlal sudah tidak bisa dilanjutkan.

Karena jalan sudah terpenuhi oleh para demonstran, terpaksa kami berhenti di bawah jembatan rel kereta api. Dan melakukan aksi di situ, serta mendengarkan tausyiah para Ulama’ lewat sound system yang terdapat di tiang. Semakin berjalannya waktu, semakin banyak demonstran yang berdatangan.

Lebih mengesankan lagi, di pinggiran jalan para ibu-ibu membagikan makanan kepada para demonstran yang melewatinya. Banyak sekali yang bershodaqoh dalam hal makanan ataupun minuman, suasana hujan dan kadang-kadang reda membikin semangat para demonstran semakin membara.

Bendera-bendera Lailaaha illallah, FPIS, FPI, dan bendera Indonesia terus berkibar sampai selesainya acara tersebut.

Kembali ke Petamburan dengan Aksi di Jalan

images.cnnindonesia.com

Selesainya acara dzikir bersama dan mendengarkan tausyiah para Ulama’, kami pun kembali ke Petamburan dengan melkukan aksi lagi serta meneriakkan yel-yel (lagu) yang dibuat pemimpin kami. Lumayan  jauh dari Monas ke Petamburan yang berjarak sekitar 2 km lebih.

Yel-yel terus kami teriakkan dengan lantang dan kompak, lirik yel-yel (lagu) tersebut : ” Sudah semenjak zaman dahulu, PKI pengkhianat bangsa. Dari Madiun hingga Gestapu, PKI merongrong  kita. Hancurkanlah siapa? Musuh kita yang mana? PKI dan konco-konconya, waspadai penyusupan di sekitar penguasa. Hancurkanlah musuh kita, para penista Agama, waspadai penyusupan di sekitar penguasa.”

Yel-yel (lagu) tersebut terus dilantangkan dan juga diiringi teriakan takbir yang mengokohkan keyakinan kami. Walaupun jarak yang lumayan jauh, panas matahari yang terang, semua itu tidak terasa melelahkan karena semangat yang membara pada diri-diri kami.

Istirahat di Masjid Al Ishlah

mmc.tirto.id

Sesampainya kami di Petamburan, para anggota FPI mempersilahkan dan menyambut kami untuk beristirahat di masjid Al Ishlah serta memberi air mineral untuk kami. Kami pun langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan Sholat Dhuhur dan sekalian menjama’ Sholat Ashar.

Sebelum menuju ke bus kami, kami istirahat sebentar dan berbincang-bincang dengan kawan. Hampir setengah jam kami istirahat, terdengarlah suara komandan untuk langsung menuju bus yang kami tumpangi, supaya sampai rumah tidak terlalu siang.

Pulang ke Solo

trendingtopic.info

Kami pun berjalan kembali menuju bus yang kami tumpangi, dan saling berjabat tangan dengan anggota FPI.. Sesampainya di bus, ternyata salah satu anggota kami ada yang belum datang ke bus. Setelah dicari ternyata dia tertidur di Masjid Al Ishlah karena kecape’an.

Akhirnya dia datang dan bus pun mulai berjalan, karena Sholat Ashar sudah dijama’ maka kami melanjutkan perjalanan sampai datangnya Sholat Maghrib. Perjalanan sudah lumayan jauh yang kami tempuh dan harus berhenti dulu karena adzan Sholat Maghrib sudah dikumandangkan.

Kami berhenti di Tol, yang ada Masjidnya. Setelah Sholat Maghrib dan menjama’ Sholat Isya’, di tengah-tengah perjalanan kami mendapat kabar menyedihkan. Bahwa tetanggaku atau kawanku meninggal dunia, yang sebelumnya aku tertidur, langsung bangun dan tidak ngantuk lagi bahkan tidak bisa tidur.

Akhirnya kami pun ssampai di Solo pada sekitar jam 04:00 sebelum Sholat Shubuh, dan sampainya aku dan bapakku tepat dikumandangkannya adzan Sholat Shubuh. Kami pun Sholat Shubuh berjama’ah dan setelah sholat, aku dan remaja-remaja masjid langsung menuju rumah kawanku yang meninggal.

Tinggalkan komentar