Kisah-kisah Mengharukan Nabi Muhammad SAW Semasa Hidupnya

Sebagai orang muslim pasti kita mengetahui kisah tentang keutamaan, kesedihan dan kisah mengharukan Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam. Betapa besarnya perjuangan beliau berdakwah untuk menyelamatkan dan meluruskan umatnya dari jalan yang bengkok ke jalan yang lurus, dari kegelapan menuju cahaya yang terang.

Karena sangat cintanya beliau dengan umatnya, beliau berdakwah dengan sekuat tenaga supaya menuju jalan yang benar. Gangguan, cemo’ohan, dan kata-kata yang menyakitkan hati, terus keluar dari mulut-mulut umatnya ketika masih pertama kali dakwah beliau.

Kisah  Nabi Muhammad SAW
dubaisafariworld.com

Dan apa yang dilakukan beliau? Beliau hanya diam dengan penuh kesabaran, padahal Malaikat Jibril saja tidak tega melihat seorang manusia yang paling sabar dan lemah lembut terhadap umatnya diperlakukan seperti itu. Perjuangan yang tidak ternilai yang dilakukan oleh Nabi kita tercinta Nabi Muhammad sahallallohu alaihi wa sallam.

Banyak sekali kisah yang mengharukan yang dialami oleh Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam semasa hidupnya, dan dari itu, mari kita pelajari dan kita hayati bagaimana kisah mengharukan beliau semasa hidup. Yang mana beliau menghadapinya dengan penuh kesabaran, lemah lembut, dan keteguhan. Berikut ulasan kisahnya ;

1. Dakwah Mengharukan di Thaif

Kisah Rosululloh SAW
dakwahislam.net

Di waktu 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah, Rosululoh shallallohu alaihi wa sallam melakukan perjalanan ke daerah Thaif untuk berdakwah di kalangan mereka bersama sahabat beliau yaitu Zaid bin Haritsah. Beliau menyeru kabilah Tsaqif untuk masuk Islam dan menganut ajaran Yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.  Dengan tujuan, kalau orang-orang Thaif mau menerima ajakan Rosul, maka daerah itu akan menjadi tempat berlindungnya orang-orang muslim Makkah.

Untuk menghindari dari kekejaman dan penganiayaan orang-orang kafir Quraisy Makkah terhadap orang-orang yang mengikuti dakwah beliau. Beliau hijroh ke Thaif tidak lama dari wafatnya kedua kekasih yang sangat dicintai beliau. Yaitu, paman beliau Abu Tholib dan istri tercinta beliau Siti Khodijah.

Setelah meninggalnya kedua orang tercinta, yang selalu menjaga dan mendukung dakwah beliau, membuat orang-orang Quraisy jadi semakin berani mengganggu dakwah beliau. Rosululloh Saw berada di Thaif selama sepuluh hari, beliau terus berdakwah dan meminta perlindungan kepada mereka. Namun, kelakuan mereka dan tanggapan orang-orang Thaif tidak sebagaimana yang beliau inginkan.

Orang-orang Thaif malah menolak beliau dengan mentah-mentah dan perlakuan mereka terhadap beliau sangat kasar. Bahkan, mereka mengusir beliau dari daerah mereka dengan melempari batu ke arah beliau. Sampai-sampai wajah beliau terkena lemparan batu, dan Zaid pun terus melindungi beliau dari lemparan-lemparan tersebut. Bahkan Malaikat Jibril tidak tega dan sangat marah di saat itu.

Setelah itu, beliau berlindung dan beristirahat di kebun Utbah bin Robi’ah. Dan saat itulah Rosululloh shallallohu wa sallam memanjatkan do’a,” Ya Allah hanya kepadamu lah aku mengadukan kelemahan, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan hanya Engkaulah sebagai Pelindungku! Kepada siapa lagi kalau ku serahkan diriku kalau bukan kepada-Mu? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenan-Mu.”

Dengan do’a yang beliau panjatkan kepada Allah Ta,ala, pasti anda bisa merasakan betapa besarnya amanah yang beliau bawa. Betapa beratnya cobaan yang beliau rasakan saat itu, yang harus menghadapi penganiayaan dengan penuh keridhoan, sabar ikhlas, bahkan beliau tidak pernah putus asa untuk berdakwah menegakkan Al-Islam ini.

Kemudian Malaikat mendatangi beliau seraya mengatakan,” Sesungguhnya Allah telah mendengar do’amu, dan Allah sudah mengirim kepadamu Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Lalu datanglah Malaikat penjaga gunung memberi salam beliau, seraya mengatakan,” Wahai Muhammad! Allah telah mendengar do’amu, dan aku adalah penjaga gunung yang diutus oleh Rabb-mu kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu.Dan kalaupun engkau mau dan ridho, akan aku angkat dan aku balikkan lalu aku timpakan gunung Akhsyabin dari atas mereka.

Lalu jawab Rosululloh shallallohu alaihi wa sallam,” Tidak, bahkan aku menginginkan semoga Allah Ta’ala berkenan mengeluarkan dari anak turun mereka menjadi generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Subhanallah, itulah yang  terbaik beliau lakukan untuk umatnya tercinta, beliau sangat sabar, tabah, dan pantang menyerah untuk menegakkan syari’at Islam ini.

2. Kisah Rosululloh Bersama Ukasyah

Kisah Rosululloh SAW
an-ksa.com

Saat itu,menjelang waktu wafatnya beliau, Rosululloh memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan. Lalu Bilal pun mengumandangkan adzan supaya para sahabat datang ke masjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Setelah selesainya beliau sholat dua roka’at sunnah, beliau berdiri di atas mimbar.

Kemudian Rosululloh shallahu alaihi wa sallam bersabda; ” Aku adalah seorang Nabi yang diutus kepada kalian, untuk memberi kabar gembira bagi orang yang mau beriman dan memberi ancaman bagi orang yang mengingkari seruanku. Dan kedudukanku disini adalah sebagai saudara kekasih, dan bapak yang pengasih. Maka dari itu, barang siapa dari kalian yang merasa teraniaya ataupun terdzholimi olehku, hendaklah berdiri dan qhisoslah aku. Beliau mengulanginya sampai tiga kali.

Kemudian berdirilah seorang laki-laki yang bernama Ukasyah Ibnu Muhsin, kemudian dia menghadap ke Rosululloh shallalhu alaihi wa sallam, dan berkata,”Ibuku dan ayahku sebagai tebusanmu wahai Rosululloh. Kalaupun bukan karena permintaanmu yang engkau ulang berkali-kali, tidaklah aku berani tampil untuk memperkenankannya sebagaimana permintaanmu wahai Rosululloh. Dulu, sewaktu berada di perang badar, ku sempat bersamamu dan untaku berdampingan dengan untamu. Lalu aku turun dan aku pun menghampirimu.

Sesampainya di dekatmu akupun mencium pahamu, sewaktu engkau mengangkat cambuk dan melecutkan cambuk tersebut ke unta, lecutan tersebut mengenai lambungku. Dan aku tidak tahu apakah engkau melecut hendak melecutku dengan sengaja, atau bahkan engkau hendak melecut untamu sendiri? Saat itu beliau  langsung menyuruh Bilal untuk mengambilkan cambuk/ cemeti yang berada di rumah Rosululloh shallahu alaihi wa sallam.

Kemudian Bilal pun bergegas menuju rumah Rosululloh untuk mengambil apa yang beliau perintah. Bilal mengetuk pintu seraya mengucapkan salam, Fatimah binti Muhammad pun menjawab salam tersebut dan menanyakan siapa yang di luar dan apa yang ia perlukan? Kemudian dijawablah, saya Bilal, dan Rosululloh menyuruhku untuk mengambil cambuk milik Rosululloh shallallohu alaihi wa sallam.

Dengan penuh rasa penasaran, Fatimah rodhiyallohu anha pun bertanya kepada Bilal,” Wahai Bilal, apa yang akan diperbuat ole ayahku dengan cambuk ini?” Bilal pun menjawab,” Rosululloh mempersilahkan siapa saja yang pernah didzholimi  untuk mengqishosnya”  Fatimah pun berkata,” Siapa orang yang tega hendak  mengqishos Rosululloh wahai Bilal?” ujar Fatimah binti Rosulillah dan mengatakan, “biarlah aku saja yang mengganti untuk dicambuk.

Bilal pun bersegera menuju masjid untuk memberikan cambuk tersebut kepada Rosululloh. Cambuk diberikan oleh Rosululloh shallallohu alaihi wa sallam ke tangan Ukasyah. Suasana menjadi tegang dan mata para sahabat pun tercengang, bahkan para sahabat pun semua berdiri, hati-hati mereka sangat kesal dengan perbuatan Ukasyah r.a. Berdirilah Abu Bakar r.a dan Umar r.a seraya mengatakan,” Wahai Ukasyah, kami berdua masih berada di hadapanmu, kalau engkau ingin mengqhisos beliau, maka cambuklah kami berdua saja.”

Rosululloh shallallohu alaihi wa sallam menahan mereka berdua dan bersabda,” Duduklah kalian berdua, sesungguhnya Allah sudah mengetahui kedudukan kalian.”Tak lama kemudian Ali bin Abi Tholib pun juga berdiri dan melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a dan Umar r.a. Jawaban Rosululloh pun sama yang dikatakannya kepada mereka berdua.

Tidak mereka saja yang mencegahnya, kedua cucu tercinta Rosululloh shallallohu alaihi wa sallam, Hasan dan Husein pun juga menahan Ukasyah seraya mengatakan,” Hai Ukasyah, Bukankah engkau tahu, bahwa ami berdua adalah cucu kandung Rosululloh Saw, kalau kamu ingin mengqishos beliau, maka qhisos kami berdua sama saja engkau telah mengqhisos Rosululloh Saw.

Perkataan kedua cucu tercintanya itu juga sama dengan jawaban yang diberikan kepada yang lain. Beliau mengatakan,” Duduklah wahai kedua cucuku, kedua penyejuk mataku, Allah sudah tahu kedudukan Kalian berdua.” Beliau pun berkata kepada Ukasyah,” Hai Ukasyah, cambuklah aku, jika engkau hendak mengqhisosku!” Ukasyah berkata lagi,” Wahai Rosululloh, dulu sewaktu aku terkena lecutanmu, aku tidak mengenakan kain yang menutupi badanku.”

Perkataan Ukasyah menjadikan suasana semakin panas dan tegang, serta menambahi kemarahan dan kejengkelan para sahabat yang berada di sekitarnya. para sahabat pun menahan nafas mereka dan mengambil nafas dalam-dalam. Bahkan teriakan dan isak tangis pun mengisi ruangan masjid. Lalu beliau pun menyingkapkan bajunya, dan tampklah kulit punggung tubuh beliau yang sangat putih.

Ukasyah pun langsung memeluk dengan erat dan mencium  punggung tubuh beliau, seraya mengatakan,” Tebusanmu adalah rohku wahai Rosululloh, hati siapa yang tega untuk mengqhisos engkau wahai Rosululloh? aku melakukannya hanya karena aku ingin supaya kulit tubuhku menyentuh kulitmu wahai Rosululloh, dan dengan itu, Allah Ta’ala menjauhkanku dari nyala api neraka karena kemuliaanmu.”

Bersabdalah beliau,” Barang siapa yang mau melihat penduduk surga, lihatlah orang ini. Dari itu,para sahabat pun beramai-ramai mendekat.

 

Tinggalkan komentar