Kehidupanku Di Kampung Dan Di Pesantren

Kampung Halamanku

tamasya.id

               Kampung halamanku ialah kampung semanggi, yang terletak diseberang bengawan solo dan wilayahnya pun tidak terlalu besar dan luas.Akan tetapi penduduk dan keramaiannya sungguh tak bisa diduga,rumah-rumah sudah mulai terbangun sehingga arah selatan, barat, timur dan seterusnya sudah terpenuhi oleh bangunan-bangunan.

             Dan aku adalah salah satu orang yang terlahir dan tumbuh di kampung tersebut. Disitulah kedua orang tuaku mendidkku dan mengenalkan apa yang ada di sekitar kehidupan yang fana ini.Mereka mengajariku bagaimana  kedisiplinan, kedewasaan,  rasa bertanggung jawab dan seterusnya. Yang tidak kalah penting dari itu semua, merekalah yang mengajariku dan selalu mengawassiku akan menjalankan agama islam ini, dari hal sholat, mengaji, dan bagaimana berakhlak yang baik.

                Setelah itu, aku mulai kenal dan memahami apa yang ada di sekitar lingkunganku, dan saat itulah aku mulai mempunyai teman, yang akhirnya temanku terus bertambah. Setiap pulang sekolah aku langsung bermain dengan teman-temanku sampai tiba waktu ashar,untuk melakukan sholat ashar berjamah di masjid yaitu masjid Al-Falaah.

             Teman-temanku mereka tidak berada pada satu agama, jadi sebagian temanku ada yang melakukan sholat dan ada yang tidak melakukan sholat. Sesudah kami sholat ashar, kami melanjutkan bermain lagi sampai jam lima sore, setelah itu aku mandi dan persiapan sholat maghrib. Sehabis sholat maghrib aku disuruh untuk belajar, dan kadang-kadang disaat aku belajar aku tertidur karena kecape’an, tapi aku tidak lupa untuk melaksanakan sholat isya’.

        Sehabis sholat isya’, kadang-kadang bapakku mengecek hafalanku, setelah itu aku disuruh untuk istirahat (bobo’), seperti itulah kehidupan aku setiap hari di kampung halamanku tercinta….  Hahhhaa.

Terbentuknya Suatu Organisasi (geng)

www.weteachwelearn.org

           Setelah berkumpulnya teman yang cukup banyak,kami merasa bangga dan senang karena mempunyai banyak teman dan kita bisa saling melindungi. Dikampungku sewaktu aku masih sd, kampungku adalah kampung yang masih jahiliyah,    pemuda-pemudanya ada yang masih mabuk-mabukan, dan masih banyak perbuatan keji, dan mereka mempunyai suatu organisasi (geng) yang bernama MHC.

           Dari situlah kami juga ikut membuat sebuah geng, karena kami merasa sudah  banyak teman dan para pemuda-pemuda tersebut siap menjaga dan membantu kita.Tidak lama kemudian para pemuda di kampungku mereka ditangkap polisi, karena mereka tawuran dengan nak-anak sekolah SMA kasatria. Akhirnya setelah berjalannya waktu mereka bebas, tapi tetap saja kelakuan mereka seperti yang dulu.

 

           Dan akhirnya muncullah ormas islam yang bernama team hisbah dengan maksud amar ma’ruf nahi mungkar, yang menghancurkan segala kemaksiatan yang ada di sekitar semanggi. Waktu itulah banyak sekali perang antara ormas muslim dengan ormas-ormas yang gali (mbeling). Sebagaimana kelompokku (gengku) yang bernama GBH (Gerombolan Baju Hitam) yang setiap malam minggunya wajib memakai kaos warna hitam, kami juga sering perang/tawuran dengan geng yang lain.

          Dan aku pun pernah beberapa kali kepalaku berdarah/luka karena kena lemparan batu, itupun adalah hal yang wajar namanya tawuran kalau nggak ada yang luka kurang seru. Kadang kita ribut di pasar malam, di tanggul, di kretek jembatan bengawan solo dan lain-lain.

          Kamipun kadang-kadang juga melakukan permainan yang tidak bermutu seperti, permainan ular tangga yang dibuat rintangan seperti film jumanji, contoh rintangannya: jika kita berhenti di nomor 15 maka kita disuruh bertiak dengan teriakan mbok’eee (ibu) sekencang-kencangnya, ada yang disuruh keliling Rt tanpa baju, dll.

         Dan masih banyak lagi permainan nyleneh yang kami lakukan, yang kadang-kadang sampai membuat marah warga. Itulah kebersamaan kami disaat aku masih sd, yang selalu menyusahkan orang tua dan warga sekitar.

Petualanganku

www.backdoorjobs.com

         Terkadang kamipun bosan dengan keadaan yang ada disekitar lingkungan kami,maka dari itu kami gunakan setiap sore untuk bermain bola di alkid (alun-alun kidul), karena terlalu seringnya kamipun jago bermain bola. Akhirnya kamipun meminta kepada pak Rw untuk membantu kami membuat team sepak bola, beliaupun menyetujuinya.

          Dan dibentuklah suatu team yang bernama PSAS (Persatuan Sepak Bola Anak semanggi). Dan kadang di hari jum’at setelah jum’atan kami pergi ke pasar gede, jaraknya lumayan jauh dari kampung halaman kami sekitar 4km, dan kami harus mencari tumpangan, biasanya kami meminta tolong kepada pengendara mobill pick-up yang perjalananya searah dengan kami.

          Setelah kami sampai disana, kami langsung naik ke lantai 2 untuk memantau mana buah yang mau kita ambil (buah yang sudah dipisahkan/tidak layak dijual) tapi tidak semua buah tsb jelek, setelah itu kami berplencar dan berkumpul di sebelah kiri pasar,kami mengambil buah tersebut dengan izin penjual, atau kadang-kadang kami membantu menurunkan buah dari truk, dan buah  yang jatuh-jatuh itu boleh kami ambil, setelah itu kami kumpul lagi dan memakan buah tersebut sampai kamipun kenyang.

         Kadang kami juga berpetualang ke bengawan solo dan ke alas disekitarnya, mencari burung, ular, biawak, keong dan masih banyak lagi. Semua itu kami jalani untuk kesenangan kami.

 

Waktu-Waktu Akhir Sebelum Ke Pesantren

http://2.bp.blogspot.com

          Setelah perjalanan yang cukup lama kami alami bersama, saat itu orang tuaku menyuruhku untuk masuk ke pesantren. Supaya aku paham agama, dan bisa menjadi anak yang sholeh, yang bisa membanggakan kedua orang tua di dunia dan akhirot dan menjadi orang yang bermanfaaat bagi manusia, itu ikhtiar orang tuaku untuk menjadikan anaknya supaya lebih baik dari sebelumnya.

          Disuatu saat ada dari salah satu temanku yang bertanya kepadaku mau lanjut SMP mana?  Dengan agak berat hati aku mengatakan mau lanjut ke pesantren, saat itulah mereka mencandaiku dan menakut-nakutiku bahwa nanti di pesantren nyuci sendiri, kakak kelasnya begini dan begitu dll. Akupun terkadang merasa agak sedih atas keputusan orang tuaku yang mengharuskanku masuk ke pondok.

Memasuki Lingkungan Pesantren

http://1.bp.blogspot.com

           Dan akhirnya, tibalah aku di suatu pesantren yang terletak di jumapolo, yang bernama pesantren Al Islam Jumapolo. Berada di desa yang masih pelosok, udara yang sejuk, hehijauan yang menyejukkan mata, dan sepi sunyi yang tidak menganggu telinga dan tetangga-tetangga yang ramah.

            Pertama kali aku tinggal disana aku sangat tidak betah, tapi setelah berjalannya waktu aku bisa merasakan ketenangan dan kesenangan mencari ilmu di pesantren. Dan aku mengerti enaknya hidup di pesantren, banyak teman, saling membantu, dan tak kalah penting yaitu hidup berjamaah. Banyak hal yang aku dapatkan di pesantren tentang kedisplinan, kedewasaan, dan rasa bertanggung jawab, dan juga ilmu agama.

Kesenangan Dan Kesedihan Di Pesantren

https://mafatihul.files.wordpress.com

            Banyak kejadian yang kualami di pesantren,kesenangan,kesedihan itu pasti dialami setiap orang yang berada dimana saja orang berada.Kesenangan di pesantren itu yang kualami sangat banyak dibanding kesedihannya,seperti berjamaah,belajar Al quran,belajar kelompok,berbahasa arab dll.         

           Adapun kesedihan yang kualami di pesantren adalah jauh dari orang tua,tidak bisa merayakan iedul adha bersama keluarga karena tidak boleh pulang,lama tidak mendapat kiriman makanan (hhaha).Tapi diwaktu aku bersedih,pasti ada teman yang menghibur aku supaya aku tidak bersedih.              

           Dan juga sebaliknya jika mereka sedih aku berusaha menghibur mereka supaya tidak bersedih.Teman-temanku di pesantren,mereka semua berbeda kriterianya ada yang humoris,jail,pemarah,pendiam dll.Tapi setiap manusia itu pasti mempunyai kemampuan dan kelemahan masing-masing.Dan dari perbedaan itulah yang melengkapi kami satu sama lain.

Kebersamaan Yang tak Pernah Terlupakan         

https://pixabay.com

            Di pesantren tidak akan mudah hidup bersendiri,karena hidup berjamaah tidak akan terlepas oleh seorang santri.Kesedihan,Kesenangan kami lalui bersama dan selalu bersama dalam mencari solusinya.Kami dilatih untuk selalu berjamaah dari hal yang keccil sampai hal yang besar,seperti makan berjamaah,berangkat ke masjid berjamaah,piket,dll.

              Dan sampai akhirnya aku lulus dari pesantren  tersebut dengan banyak sekali pengalaman yang baru.Dari situlah aku bisa melihat mana kebersamaan yang baik sewaktu aku di pesantren atau di kampung.Semua pengalaman yang kualami di pesantren tersebut tidak akan terlupakan untuk selamanya.

             Dari itu semua aku dapat mengambil  kesimpulan bahwa semua kejadian itu pasti ada hikmahnya. Dan setelah aku lulus dari pondok pesantren Al Islam Jumapolo, aku sekarang masuk pesantren lagi yaitu pesantren sintesa, aku ingin hidup berjamaah lagi dan Insyaallah Allah memudahkanku dalam proses belajar dan membarokahi ilmu yang saya dapatkan, Amien…

Tinggalkan komentar