Berlibur ke Pantai Srau Bersama Keluarga Besar

nonikhairani.com

Hidup di dunia ini terasa sangat cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, tiba-tiba sudah memasuki bulan wajibnya orang beriman untuk berpuasa. Bagi yang tua maupun muda, laki maupun perempuan mereka wajib untuk berpuasa.

Begitu juga bulan puasa ini, bulan yang penuh berkah dan ampunan belum aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semua orang muslim sudah pada menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut datangnya lebaran  yang semakin dekat ini, bahkan orang non muslim juga ikut mempersiapkan kebutuhan yang dibutuhkan.

Fenomena/kejadian yang ada di Indonesia ini sangat unik, karena mereka ingin Bulan Ramadhan ini selesai dengan cepat dan sangat menanti datangnya Hari Raya Iedul Fitri/lebaran.

Padahal para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Salam mereka sangat sedih dan menangis ketika Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini berakhir. Karena  pada bulan tersebut adalah suatu momen untuk memperbanyak ibadah dan mereka juga ingin mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Begitulah lucunya negeri ini, yang penuh kesedihan dan kebohongan. Rakyat yang selalu ditindas, orang asing yang selalu dijaga  dan dibela.

Hari Raya Iedul Fitri

mamanya.com

Lebaran pun telah tiba, semua orang merayakannya dengan penuh cinta, kesenangan dan kebahagiaan yang tersirat di wajah-wajah mereka. Mereka saling berjabat tangan dan saling bermaaf-maafan, yang tidak luput dari mereka adalah berkumpul bersama keluarga besar mereka, dan meminta maaf kepada orang tua.

Berkumpulnya bersama keluarga besar, akan mempererat hubungan tali kekerabatan, itu semua sudah dicontohkan oleh Nabi  kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Salam.

Begitu pula aku dan keluarga, setiap lebaran kami juga turut serta merayakannya. Tapi, ada satu yang belum lengkap pada akhir-akhir lebaran ini. Kakek dan Nenek dari arah Bapak sudah tiada (meninggal), dan Kakek dari arah Ibu juga sudah tiada. Itulah yang kurang menurutku ketika berkumpul bersama.

Tapi, kesenangan dan kebahagiaan kami tidak terkalahkan dengan kesedihan kami, canda tawa yang tampak di antar kami. Paman, Bibi, semua pada memberi uang kepada keponakannya, baik dari 10 ribu sampai 100 ribu, bahkan ada yang lebih. Itu semua hanya untuk menyenangkan anak-anak dan supaya mereka menghormati kerabatnya.

Ditengah-tengah percakapan kami, tiba-tiba paman melontarkan suatu usulan yang mengajak sekeluarga besar untuk berlibur ke Pantai Srau, yang terletak di daerah Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Dengan senang hati kami menerima usulan tadi.

Akhirnya kami semua sudah fix/sepakat untuk berangkat pada 6 hari setelah lebaran, dan berangkat pada jam 3 pagi.

Berangkat Menuju Tujuan

otomotifmagz.com

Setelah berselang 5 hari, akupun belum juga mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhakan. Dari baju, celana ganti dan masih banyak yang belum aku persiapkan. Pada malam harinya aku bersama kerabatku pergi ke Mall untuk membeli baju dan keperluan yang mau dipakai untuk besok.

Setelah keesokan harinya yaitu jam 3 pagi kami pun berangkat bersama keluarga besar dengan memakai mobil, karena banyaknya keluarga, kami membutuhkan 3 mobil. Karena Paman-Pamanku orang yang berkecukupan, maka dari itu untuk transportasi kami tidak perlu menyewa.

Sayangnya tidak semua keluarga lengkap, bahkan keluargaku hanya aku dan kakakku yang pertama yang turut ikut berlibur ke Pantai Srau. Dan juga keluarga-keluarga yang lainnya, berbagai faktor yang menyebabkan mereka tidak ikut. Ada yang kerja, tidak kuat melakukan perjalanan jauh dan lain sebagainya.

Berangkatlah kami ke tempat tujuan, kami sempat turun sebentar dan berhenti di suatu masjid untuk melaksanakan Sholat Shubuh dan berdo’a supaya diberi keselamatan. Setelah selesai sholat, kami bersegera melanjutkan perjalanan supaya sampai tujuan nanti bisa melihat terbitnya matahari.

Berjam-jam kami terus melanjutkan perjalanan sampai-sampai banyak yang tertidur dalam perjalanan itu. Setelah lamanya perjalanan yang kami tempuh, sampailah kami di Pantai Srau sekitar pukul 07:30 pagi, tapi sayangnya kami kesiagan saat kami sampai di tujuan. Kami tidak bisa melihat terbitnya matahari (sunrise.)

Memandangi dan Mentadabburi Sekeliling Pantai

febrialicious.wordpress.com

Berlibur memang sesuatu hal yang sangat menyenangkan, semua orang pasti pernah mengalaminya. Apalagi berlibur setelah lebaran, banyak sekali yang berlibur di hari-hari yang seperti ini, baik liburan ke pantai, gunung, kebun  binatang dan masih banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi.

Sedangkan aku bersama keluarga besar berlibur ke pantai, di saat kita sudah sampai tujuan dan membayar tiket masuk yang seharga Rp. 400o per orangnya, setelah itu kami tidak langsung bermain ataupun yang lainnya. Kami masih memandangi dan mentadabburi sekeliling pantai tersebut, dengan membayangkan betapa besar kekuasaan Allah Ta’ala.

Dan yang tidak lupa diucapkan oleh seorang hamba yang melihat sesuatu yang menakjubkan adalah kalimat.” Subhanallah. ” Itulah yang seharusnya dilakukan seorang muslim ketika berada di pantai, bukan mendahulukan bermain ataupun bersenang-senang.

Bermain-Main di Pinggir Pantai

eldesimedis.blogspot.co.id

Berjalan-jalan memandangi dan mentadabburi yang ada di sekitar pantai ternyata lumayan melelahkan juga. Setelah kami kembali ke tempat  istirahat, berbagai makanan dan minuman sudah disiapkan oleh Bibi-bibi yang baik hati kepada kami.

Tidak memakai basa-basi kami pun menyantap hidangan yang telah disediakan oleh Bibi-bibiku. Canda tawa selalu mengiringi kita di suasana apapun. Permainan yang tak boleh ditinggalkan sewaktu berlibur ke pantai adalah bermain bola.

Saat itu yang menginjakkan kaki untuk bermain bola hanya beberapa orang, tapi karena keseruan kami bermain bola sambil diiringi angin yang berhembus melepaskan kecape’an dan kebosanan kita, turut ikutlah kerabat-kerabatku dari yang berusia kecil sampai yang tua untuk memperlihatkan skill mereka bermain bola.

Dan tidak mau kalah lagi suara para perempuan yang menyemangati para suami dan anak-anak mereka. Gol demi gol tercipta secara bergantian, pertandingan yang semakin sengit yang berlangsung di pinggir pantai menjadi sebuah tontonan yang luar biasa dan unik bagi para wisatawan.

Pertandingan itu berakhir dengan skor yang tidak diketahui hasilnya.Tapi itu tidak masalah bagi kami, karena tiada lain kami hanya mencari sensasi baru dan untuk menyegarkan tubuh.

Bermain Air di Pantai

majalah.stfi.ac.id

Permainan demi permainan telah kami lakukan, rasa cape’ dan lelah sudah terasa yang mengharuskan kami beristirahat. Istirahat sambil makan makanan ringan serta diiringi angin yang berhembus, terdengar suara ombak yang membentur karang-karang yang berada di pinggir pantai.

Suara ombak yang berirama itu, memancing perhatian kami untuk bermain air. Tidak satupun wisatawan yang berani turun ke pantai, Tidak menunggu lama kami pun langsung menuju pantai untuk membasahi baju dan sambil bermain. Semua pandangan wisatawan tertuju ke arah kami.

Sampai-sampai banyak yang memotret kami dari kejauhan maupun dekat, karena melihat satu keluarga besar yang sangat kompak. Ombak yang terus datang  secara beriringan membuat kami tidak mau berhenti bermain.

Ombak yang terus berdatangan dan waktu sudah semakin siang, ombak menjadi lebih besar dan angin juga semakin bertambah besar. Hal itulah yang mengharuskan kami untuk  berhenti bermain air di pantai, karena berbahaya jika kami lanjutkan.

Istirahat Sambil Menikmati Angin Pantai

ismakemaman.net

Berpakaian dan anggota tubuh yang terbasahi oleh air laut yang asin, kami segera membersihkan badan dan mengganti pakaian menuju toilet. Rupanya ke toilet tidak langsung masuk begitu saja dan pergi begitu saja, untuk bisa masuk ke toilet juga harus menunggu antrian, dan jika sudah selesai mandi juga harus bayar.

Perut-perut pun sudah pada terasa keroncongan, karena sudah terkuras untuk bermain-main. Ternyata setelah kami kembali ke tempat istirahat, berbagai makanan dan minuman pun sudah disiapkan oleh Bibi-bibi yang ramah dan baik hati.

Menyantap makanan dan minuman di pinggir pantai sambil menikmati angin yang berhembus kencang dan mendengarkan suara ombak yang menabrak karang, sangat menemani kami dalam menikmati makanan. Apalagi bisa makan bersama keluarga besar di pinggir pantai, itu adalah nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada keluarga besar kami.

Kami telah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bermain-main di pantai ini, kami cukup puas bermain dengan Pantai Srau ini. Kami pun memutuskan untuk pulang setelah selesainya makan, dan menjelang tengah hari sekitar pukul 11:00 kami pun membereskan semua perlengkapan dan menuju ke mobil yang kami tumpangi.

Perjalanan Pulang

poskotanews.com

Kami pun memasuki mobil yang kami tumpangi, setelah mengecek semua peralatan yang ada, kami pun langsung menempuh perjalanan pulang ke rumah nenek. Karena rumah-rumah kami tidak terlalu jauh satu dengan yang lain, perjalanan terus kami tempuh dan kami harus turun di masjid untuk melaksanakan Sholat Dhuhur.

Sholat pun sudah kami laksanakan dan juga mengqoshor Sholat Ashar. Kami lanjutkan lagi perjalanan, di pertengahan jalan aku baru teringat bahwa wadah peralatan mandi beserta isinya tertinggal di toilet, padahal di dalamnya juga ada kaca mata dan cas hand phone dan head set nya.

Ya Alhamdulillah saja, yang penting bukan hand phone nya. Perjalanan pulang terasa lama dibandingkan berangkatnya, dari itu kami tertidur di mobil sepanjang perjalanan sampai kami tiba di rumah Nenek. Alhamdulillah kami pun tiba di rumah Nenek dalam keadaan selamat.

Pengalamanku berlibur bersama keluarga besar merupakan momen yang sangat special bagiku, maka dari itu, setiap kali engkau berkumpul bersama keluarga besar, manfaatkanlah momen tersebut sebaik-baiknya sebagaimana keluarga besar kami yang benar-benar memanfaatkannya.

Tinggalkan komentar